Selamat Datang di Rumah Batik Amel

Jenis dan Ciri-ciri Batik di Daerah Jawa

Jenis dan ciri-ciri batik di daeran jawa sangat beragam. Keberagaman itu sangat dipengaruhi oleh kultur yang berkembang didaerah tersebut.

Daerah Surakarta dan Yogyakarta yang lazim dianggap sebagai pusat kesenian batik terkenal karena tatawarna biru tua sebagai warna dasar, coklat soga dan putih. Dalam pemilihan warna putih saja, kedua daerah yang letaknya sangat berdekatan itu, berbeda. Kain-kain dari Yogyakarta warna putihnya itu putih bersih, sedang di Surakarta warna ini lebih kekuningan gading.

Bergerak ke arah barat, ke daerah Banyumas yang pengaruhnya terasa sampai ke Tasikmalaya dan Garut, akan terlihat bahwa tatawarna yang digemari ialah warna kuning keemasan dikombinasikan dengan soga coklat muda serta biru tua kehitaman.

Di pantai utara Jawa Barat mulai dengan daerah Indramayu, orang gemar memakai warna biru, tetapi daerah Cirebon sendiri dengan kraton Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan, mempunyai pusat pembatikan di Trusmi dan Kalitengah dengan pola serta tatawarna yang khas. Melihat pola serta warna-warna kain “megamendung” yang memakai teknik bayangan berlapis kadang-kadang sampai 7 lapis banyaknya orang pasti akan kagum. Batik “kraton” dengan pola-pola gunung, taman dengan segala macam binatang berwarna kuning gading tidak kurang indahnya.

Mulai dari daerah Cirebon menyusur pantai ke arah timur sampailah ke pusat pembatikan daerah Pekalongan dengan kainnya yang berwarna modern. Kalau dahulu warna-warna  ini terbatas pada pemakaian warna merah, biru, putih dan hijau, maka berkat zat warna kimia tidak terbatas kemungkinan warna yang dipakai, sehingga kain-kain daerah Pekalongan dewasa ini paling menyolok tatawarnanya. Terus lagi ke arah timur menjelajahi daerah utara Jawa Tengah dan Jawa Timur, menjumpai kota-kota batik yang terkenal seperti Kudus, Juwana, Rembang, Lasem, Gresik sampai Surabaya, akan terlihat tatawarna yang khas pula, sangat  terpengaruh oleh selera etnis Tionghoa. Pulau Madura sebagai penutup bunga rampai ini sejak dahulu mempunyai kegemaran akan warna soga kemerahan. Warna coklat merah ini diperoleh karena campuran soga dengan mengkudu (Morinda citrofolia) sebagai penghasil zat warna merah.

Pemakaian zat warna kimia  menghilangkan perbedaan tatawarna menurut daerah. Pekalongan kini sanggup meniru kombinasi warna dari berbagai daerah. Surakarta dan Yogyakarta juga demikian. Masing-masing pusat pembatikan mengikuti selera khalayak ramai mengenai kombinasi warna tertentu yang paling laku saat itu.  Upaya-upaya perlu dilakukan agar pemakaian zat warna dari tumbuh-tumbuhan ini dapat hidup kembali dan tentunya tanpa memakan waktu yang lama untuk memperoleh warna yang diinginkan.

Mungkin Anda menyukai

Sejarah Batik Pekalongan

BATIK Sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO

Pekalongan Kota Batik

batik pekalongan

Batik Pekalongan, antara Masa Lampau dan Kini

batik

Batik

Tinggalkan Komentar

Alamant email Anda tidak akan publikasikan

Belanjaan Anda

Amel

Selamat Datang di Toko Online kami.... Rumah Batik Amel Pekalongan

Mari Chat... Apa yang bisa kami bantu?